Malam Minggu (11/7), bertempat di All Day Space, Mara Café Cianjur, Jl. Ir. H. Juanda no. 29, Nov dari Midweek Madness Tua-Tua Keledai berkesempatan mewawancarai Lucky Avrilia, gitaris sekaligus otak di balik dua band metal asal Cianjur, Hegemony of God dan Dimethyl Mercury.
Dalam wawancara ini, Lucky menceritakan pengalamannya yang telah lebih dari satu dekade berkiprah di skena musik Cianjur sekaligus keluh kesahnya mengenai ekosistem musik di kota ini. Mulai dari kesulitan mencari tenaga yang berpengalaman dalam manajemen industri permusikan, kultur senioritas toksik, hingga rencana serta harapannya akan skena musik di Cianjur. Silakan membaca! Tabik!
Halo, A Luki! Bisa diceritakan enggak sih awal perjalanan A Luki bermusik di Cianjurkaya gimana?
Oke, Jadi awalnya aku emang bermain di Hegemony of God (HOG) dari band-band-an waktu SD. Jadi waktu itu, aku, Bintang, Rey, dan Iam emang udah band-band-an dari kelas 5 dan bawain lagu-lagu pop kaya Radja, Peterpan, pokoknya yang kaya gitu, lah.lalu ada masa-masanya kita sering latihan ke studio dan bawain lagulagi emo. Seiring nambah umur, kita mulai dapat insight tuh kalau “ada ternyata yah musik kaya begitu, ada juga musik yang gitu”.
Lama-lama setelah kita masuk SMA, ketemulah kita sama Hood, vokalis pertama HOG. Dari sana kita mulai nge-jam bareng, mutusin buat bikin band, dan akhirnya nemu nama Hegemony of God.
Pas masa itu berarti udah mainin musik metal kaya sekarang juga? Ceritain juga donggimana proses pembuatan lagunya di masa-masa itu?
Waktu itu tuh anak-anak tiba-tiba mutusin, “genre kita metal weh,” setelah sebelumnya kita sering bawain lagu-lagu Emo kaya Alesana gitu-gitu, lah. Tiba-tiba referensi kita makin nambah, kan, kita udah langsung ngebet pengen bawain Lamb of God dan Burgerkill. Kita ulik bareng-bareng riff sama lagunya, dan sampailah kita pada keputusan kalau band ini harus dibikin lebih serius dan bikin musik sendiri. Kebetulan waktu SMP aku dan Rey juga belajar Digital Audio Workstation (DAW), jadi dengan diam di rumah aja udah bisa produksi musik sendiri.
Kalau ke album Prahara sendiri gimana prosesnya, A Luki? Apa sebelumnya udah ada plan gitu ini musiknya mau digimanain dan dikemanain gitu?
Nah, jarak dari bikin band sampai album pertama kita agak lama juga. Kalau enggak salah 2017 kita rilis album Prahara, setelah sebelumnya bikin single buat di-upload di platform-platform gratis kaya Reverbnation atau MySpace gitu. Dulu mah kan zaman Zona Distorsi, jadi kita cuman tahu bikin lagu, manggung, entar setahun atau beberapa bulan kemudian, kita bikin lagu Lagi, gitu doang weh.
Tapi, di masa itu bermusik udah jadi job tetap gitu, A Luki? Maksudku, udah bisa subsisten lewat musik?
Seingetku HOG baru pertama kali manggung dibayar itu pas manggung di Hellprint sekitar tahun 2014, lah. Jadi uang kas kita waktu itu emang benar-benar ditopang sama merchandising, juga sih, soalnya duit hasil manggung biasanya langsung habis dibagiin ke temen-temen kru dan fotografer juga udah habis sebenarnya. Jadi ga ada kepikiran band itu jadi Job / sumber penghasilan sampai hari ini juga.
Kalau A Luki sendiri sebenarnya belajar dari mana sih soal pengolahan karya, perindustrian, bahkan sampai berani nyeriusin si HOG ini?
Dulu mah salah satu yang konsisten ngedorong kita buat lebih serius di musik sih Losebag(Cianjurmusikcadas), ya. Insight yang dikasih sama Losebag teh menurutku selalu one step ahead dan enggak pernah bener-bener kepikiran sama si HOG teh. Terus ke sini-sini, seiring tambah dewasa, aku juga jadi banyak kenalan dengan temen-temen luar kota. Mereka yang sekarang juga banyak ngasih input, lah.
Apa sih yang bedain berkarya di Cianjur sepuluh tahun yang lalu sama sekarang?
Kalau dari mekanisme berkarya mah sejauh ini sama aja, ya. Cuman yang mau aku sorot tuh jaman dulu premanisme-nya benerbener ngeri, sedangkan kalau zaman sekarang mah bisa dibilang lebih baik, ya. Pokoknya semua orang bisabisa aja berteman baik. Jotos-jotosan bukan Cuma di gigs doang tapi sampai disusulin ke rumah.
Gimana tah?
Kayanya susah dipercaya, ya, ekstrem banget, tapi si Hood yang vokalis pertama HOG tadi pernah sampe disusulin ke rumahnya terus digebukin sama ada lah senior. Alasannya? Gak pernah nongkrong terus dianggap sombong haha. Selain si Hood, si Bintang juga jadi korban tapi ga ampe digebugin, alasannya sama. Cuman sekarang mah alhamdulillah kita udah berteman baik, mungkin dulu mah khilaf dan di bawah pengaruh alkohol yang kelewatan kali, ya hahaha.
Mending kalau tongkrongannya enggak aneh-aneh, ya A Luki?
Hahaha Bener, dibanding nongkrong yang enggak sehat, mending urang mah bikin musik sendiri di rumah geuning. Anak-anak dulu mikirnya gitu. Beda dengan sekarang, sih. Kalau sekarang kita nongkrong juga emang kebanyakan bahas hal positif, lah. Tukar referensi misalnya.
Ngomongin referensi, A Luki sendiri dulu gimana sih caranya digging referensi?
Kalau dulu ya sebatas dari mulut ke mulut. Lama-lama mulai main media sosial, tapi pas sekitar tahun 2015, aku coba bikin komunitas. Aku comotin tuh band-band baru yang seru sambil bilang, “Bro, urang nongkrong, yuk. Kita bikin kompilasi.“ Nah, dari sana kita sadar kalau nge-band tuh enggak bisa sendiri-sendiri, tapi juga harus berkomunitas biar bisa berjejaring.
Nah, ngomongin soal jejaring, gimana sih pengalamannya pas dulu pertama kali main di luar kota dan pengaruhnya terhadap cara pandang A Luki juga terhadap musik?
Dulu kita pertama kali main do luar kota itu awalnya gara-gara Hellprint, sih. Pas tahun 2014 atau 2015-an gitu, yang masuk ke kompilasi Hellprint tuh cuma ada 10 band dari 10 kota yang berbeda. Nah, dari situ kita mulai pada kenalan dan masih berteman bahkan sampai sekarang. Sejak itu mulai terbentuk kebiasaan kalau kita nyambang ke kota orang, udah pasti kita nyari kenalan sebanyak-banyaknya di kota tersebut.
Di luar topik, apa kendala yang A Luki dan temen-temen di band hadapi selama proses kreatif dari mulai pra-produksi sampai pasca-produksi selama bermusik di Cianjur?
Sebenarnya kalau di proses produksi mah enggak terlalu ada kendala sebab Luki sama si Rey punya previlege studio musik sendiri. Akan tetapi, menurut Luki ya ini mah, nge-band di Cianjur tuh emang harus serba mandiri karena enggak ada support system yang proper gitu. Kita masih belum punya production house buat manajemen band yang layak, sedangkan kemampuan aku cuma sampai segini kapasitasnya.
Sebenernya aku juga pengen gitu ada temen yang bisa bantuin HOG, secara managerial, dan lain-lain, tapi bahkan sampai sekarang sampai rilisan-rilisan ke depannya sampai ke artwork kadang masih juga aku yang bikin. Di luar itu, kalau kendala teknis masalahnya cuma beda persepsi aja, sih. Lebih ke referensi Luki atau Rey yang beda. Selebihnya, soal equipment sudahpasti kita upgrade terus, dan alhamdulillah kalau HOG manggung juga banyak yang bantuinadditional. Misalnya Iki (Kill Disaster), Ivan (Dimethyl Mercury), dll.
Spill dong, ada enggak sih band Cianjur yang A Luki suka?
Sejauh ini aku suka Durga, sih. Menurut Luki mah mereka udah one step ahead sih dibanding HOG mah, ya. Mungkin scene DIY sana lebih seru dan tertata karena ada Metaklab. Selain itu, kolektifnya juga produktif, bukan sekadar nongkrong doang.
Oh iya, ngomongin produktivitas, nih. Gimana sih sebenarnya A Luki dan teman-teman HOG bertahan hidup lewat bermusik sekarang ini?
Jujur aja, kas si HOG 90 persen didapet dari merchandise. Royalti streaming hampir enggak ada, sih. Kecil banget pokoknya mah.
Nah, kok bisa sampai kepikiran bikin orkestra kaya kemarin?
Sebenarnya itu teh udah cita-cita kita dari lama, Nov. Cuman kan untuk mewujudkannya butuh uang banyak, ya. Untungnya, ternyata ada lah pihak yang mau men-sponsori itu. Kita juga kepikiran sih bawain set live orkestra 4 lagu. Cuman ya balik lagi kendalanya di keuangannya.
Apa harapan A Luki buat skena Cianjur ke depannya?
Sebenarnya satu hal yang paling aku pengen tuh kalau Cianjur punya role model, gitu. Maksudku, bukan orang yang dikultuskan, tapi yang bisa saling berbagi pengalamannya, lah. Aku pengen banget sih ada gitu band yang out of the box, misalnya cari pengalaman dengan main ke festival-festival besar gitu kaya Wacken. Kalau dari Cianjur kan bisa ditanya-tanya gampang, “bro, gimana sih caranya supaya bisa main di sana?” hahaha
Spill dong rencana ke depannya buat HOG atau project lain semisal Dimethyl?
Kalau HOG sih target akhir tahun ini kita bikin EP. Udah ada satu brand dari Bandung yang emang kebetulan ngajak kerja sama bareng HOG buat tur dan promo. Soal Dimethyl, kemarin kita baru kontrak sama Underrated Records dan rencananya mau bikin demo dua lagu. Selain ganti nama dari Dimethyl Mercury jadi Dimethyl aja, musik kita juga banyak berubah enggak lagi arahnya ke death metal. Kali ini si Dimethyl lebih banyak elektroniknya dan tambahan banyak referensi dari band-band hardcore yang emang kebetulan sering ngisi otak kita belakangan ini.
Pertanyaan terakhir, musik apa yang sering A Luki dengerin belakangan ini?
Pastinya sih Bring Me The Horizon yang album Repented-nya itu. Belakangan juga aku lagi balik dengerin soundtrack-soundtrack game klasik kaya Digimon dan Harvest Moon juga.