Patrivia, unit indie pop asal Bandung mencoba membawakan isu sensitif dengan melodi twee dan indie pop yang cerah ceria. Simak lebih lanjut wawancaranya bersama Tua-Tua Keledai!
Diskursus tentang kota memang tak pernah ada habisnya. Mulai dari isu besar seperti penggusuran, perampasan hak hidup, dan ketimpangan sosial, hingga isu individual semacam perundungan kelompok rentan dan pelecehan seksual, kesemuanya seolah menjadi santapan harian bagi masyarakat urban.
Keberagaman isu inilah yang menjadi motor penggerak bagi Pathetic Trivia—atau akrab disapa Patrivia dalam berkarya. Melalui EP terbaru bertajuk Kota Gelap, kuartet asal Bandung yang diisi oleh Gia (Laxx), Arno Zarror (Dongker), Daryl Gema (The Jansen), dan Ravi (Swarm) ini mencoba meracik narasi-narasi kelam tersebut ke dalam bungkusan melodi twee pop yang cerah ceria.
Pada Sabtu (4/4), Patrivia bersama unit post-punk Water Heater mendarat di Cianjur dalam rangkaian tur Jawa Barat mereka. Di bawah bayang gelap teras JMC Studio, Tua-Tua Keledai berkesempatan untuk berbincang dengan mereka mengenai proses kreatif hingga rencana besar ke depan. Yuk, simak!
Halo, Patrivia! Mumpung ceritanya lagi jadi band baru (meski orang-orang lama juga, sih), perkenalan dulu dong!
Arno: Oke, perkenalkan kami Patrivia. Band baru asal Bandung! Pokoknya yang sebelum-sebelumnya lupakan aja dulu, deh! Secara legitimasi, band ini terbentuk Desember 2025 dengan membawa semangat ala-ala Garage Punk dan Indie Pop. Personelnya hari ini ada aku (Arno), Daryl, Gia, dan Ravi. Kebetulan Ravi malam ini enggak bisa hadir jadi digantikan sama Rafly (mixer/sound engineering).
Daryl: Soal musik, kita bawain musik-musik yang kita tahu selama pengalaman di punk aja, sih. Terus kita juga coba ngangkat beragam isu dalam proyek ini.
Nah, kenapa sih kepikiran buat bentuk Patrivia ini? Ada misi rahasia?
Daryl: Dulu tuh sebenarnya Patrivia ini proyek iseng-iseng antara aku, Ravi, dan Arno. Kebetulan kan Ravi itu di Swarm, dan Arno juga di Dongker, makanya kita pengen bikin materi yang benar-benar beda dari band-band kita sebelumnya supaya enggak terkesan pretensius gitu. Di sini kita coba mengangkat hal-hal yang deket aja.
Arno: Nah, materi yang Patrivia bawain lebih ke materi yang lebih bebas gitu. Kan kalau ngangkat isu-isu yang jarang dibahas tuh dibawain dengan musik keras, jadi terkadang sulit diterima sama orang banyak. Jadi, lewat Patrivia ini tuh kita coba bawain materi tadi dengan sound yang lebih soft dan lebih nge-pop juga. Makanya tadi kita cover lagu yang bisa in aja gitu di telinga orang.
Eh, iya tadi kok kepikiran cover lagu ERK, The Cure, sama Carnberries?
Arno: Ya itu sih karena kita belum punya lagu lain aja gitu hahaha lanjut, lanjut!
Proyek ini bisa dibilang cepet banget, loh. Cuma empat bulan dan langsung jadi EP aja gitu.
Arno: Kebetulan kita udah punya privilege dari band-band sebelumnya, jadi kita tahu tata cara gimana supaya band ini jalan dan ber-progress. Buat studio kita juga dibantu sama teman-teman dari Dongker, jadi bisa dibilang barudakan, lah. Kurangnya, waktu aku membentuk band ini, aku rasa aku enggak punya kapasitas buat ngisi vokal dan gitar makanya saya ngobrol lah dengan Gia. Kami pun ngobrol dan ternyata jujur aja lebih bagus kalau Gia yang bikin liriknya *tertawa*
Rafly: Patrivia kan intinya ngomongin gagasan, ya. Kalau ngomongin musikalitas, yang penting gagasan kami tersampaikan, lah. Semoga ke depannya kami bisa memperbaiki itu.
Setahuku kan dulu Gia main folk sama hardcore punk, ya?
Gia: Awalnya tuh Arno yang ngajakin, ya. Awalnya aku enggak tahu apa-apa soal genre ini, tapi lama-lama didengerin ternyata asik juga, nih. Soal referensi apalagi soal lirik tetep aja akarnya ke lagu-lagu folk seperti sebelumnya gitu.
EP Kota Gelap ini kan membahas erat tentang kota dan kehidupan urban, sebenarnya gimana sih pandangan kalian terhadap kota itu sendiri?
Gia: Sejauh ini yang aku lihat tuh ya sebagaimana judulnya, Kota Gelap. Ada orang setiap hari melakukan rutinitas yang sangat kapitalistik gitu, ya. Setiap hari waktu lewat ke Dipati Ukur misalnya, aku lihat orang kaya diburu-buru aja gitu. Harus bangun pagi dan pulang malem banget diteken sama jam kerja, belum lagi harus macet-macetan dan ngantri di pom bensin yang kadang bisa sampai berjam-jam. Kondisi ini aku tuangin di trek “Terampas“.
Selain itu, ada pengalaman lain juga yang aku tuangkan jadi lagu di EP ini yaitu waktu kerja jadi buruh informal. Waktu itu aku hampir selalu kebagian shift sore dan pulang malam banget. Anjir, ini gamang banget kan apalagi buat buruh perempuan, sedangkan beberapa ruas jalan di Bandung lampu jalannya mati. Nah, kritik sosial ini tercerminkan di trek “Kota Gelap“.
Arno: Berhubung kami semua tumbuh di kota, makanya tujuan EP ini tuh menjawab dengan jujur gagasan atas kota itu sendiri. Dari sanalah EP ini kita beri judul Kota Gelap. Soal artwork itu yang kerjain Delpi (Dongker), dia nge-rip off cover album Kamar Gelap-nya Efek Rumah Kaca. Itu juga yang jadi alasan kita tadi cover “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa“ hahaha *tertawa lepas*
Tadi kan kalian bilang soal kalian pengen bawain materi yang lebih bebas gitu dari band sebelumnya. Nah, sebenarnya apa sih yang bedain Patrivia dengan proyek-proyek kalian sebelumnya di luar genrenya yang lebih soft?
Daryl: Kalau secara personal dari aku ya, di band-band kita sebelumnya kan kita kaya ngerasa ada tanggung jawab besar, sedangkan di Patrivia ini tanggung jawabnya lebih lepas aja. Misalnya nih, ketika materi di Patrivia itu dibawain sama Arno di Dongker, kan kesannya jadi agak ngeri gimana gitu. Kalau ngomongin Patrivia, ya ini segmen pasarnya jelas beda meskipun enggak terlalu jauh juga. Terus musiknya Patrivia sih menurutku sebenarnya lebih bisa diterima orang banyak juga.
Rafli: Kalau perbedaan jelas ada, ya. Apalagi ketika udah bicarain visual dan gagasan. Patrivia kan liriknya ditulis oleh seorang pekerja perempuan di Bandung, pasti isunya lebih sensitif dan dekat dengan ranah sosial sama perjuangan kelas. Secara scene juga kami ngelihatnya serupa meski enggak sama, sih. Makanya pas kami milih genre garage punk atau indie-pop, kami cukup yakin kalau kawan-kawan bakal nerima juga.
Arno: Kalau soal keras tadi, itu mah mungkin karena Daryl basic drum-nya dari hardcore punk, sih. Jadi emang bawaan ngegebuk drum-nya aja yang terlalu keras hahaha. Sebenarnya kalau didengerin pas rekaman nyaman-nyaman aja kok di telinga, cuman ya kalau live jadinya kaya tadi, kita main apa adanya. Selain itu, saya pribadi penasaran aja sama gagasan Gia.
Jadi, sejak sebelum berani muncul ke publik, Gia memang dari awal sudah punya banyak gagasan. Saya paling bantu cuma di perlengkapan kosakata sama judul aja, lah. Ini kan beda sama Dongker yang ngambil perspektif dari sudut pandang pria, di Patrivia kita ngambil perspektif lain dari Gia yang seorang perempuan dan bahkan dari Daryl juga yang kebetulan udah berkeluarga. Kemarin bahkan Daryl bilang mau nambahin materi juga soal kekhawatirannya sebagai seorang ayah yang mempunyai anak wanita.
Bicara soal keperempuanan, menurut kalian gimana sih peran perempuan di zaman kapitalis kaya sekarang?
Gia: Bicara soal peran perempuan, sebenernya sama aja sih, ya. Cuman kalau dilihat dari sudut pandang pemilik modal, ya jelas penting banget! Itu sasaran empuk buat ditindas karena beban kerjanya jadi dobel, apalagi buat mereka yang udah berumah tangga konvensional, ya.
Arno: Sebetulnya menarik kan buat bahas perempuan atau gender. Menurutku idealnya sih isu perempuan emang baiknya disuarakan sama perempuan juga dan itu yang enggak bisa kita lakukan sama band-band kita sebelumnya. Kaya, lebih baik isu perempuan diwakilkan oleh mereka yang harusnya mewakilkan gitu, loh.
Rencana buat full length ke depannya gimana, nih?
Rafly: Seperti yang udah dibilang tadi, Patrivia ini kan fokus utamanya ke gagasan. Bisa dibilang Kota Gelap ini embrio dari rilisan kita selanjutnya. Kalau dari segi musikalitas, kita mau coba musik yang sedikit beda aja gitu buat nanti, yang lamaan sedikit biar panjang nyanyinya hahaha
Arno: Full length nanti pasti ada, dong. Buat kami itu tanggung jawab musikalitas. Rencananya nanti kita mau ngajak Babap (Morgue Vanguard) juga buat berkolaborasi. Tunggu aja, ya!
Gia: Dari awal aku kan punya misi nih buat populerin isu-isu yang dianggap sensitif. Rencananya nanti aku bakal angkat juga soal isu semacam buruh perempuan, perburuhan lah, menjalankan tugas sebagai divisi Agitasi! Hahaha
Btw, sebagian dari kalian kan udah pernah main ke Cianjur, ya? Gimana kesan kalian pas main di sini?
Daryl: Kebetulan ini pertama kali aku main ke Cianjur. Mungkin waktu itu The Jansen lagi rajin-rajinnya, tapi jujur ini baru kali pertama. Sebelumnya aku pernah ke Cipanas, tapi setelah keseruan di sini kayanya lebih berkesan kalau dilanjut berendam hehehe
Arno: Tur kali ini tuh menurutku luar biasa gokil, sebab semuanya dilakukan secara DIY dan basisnya pertemanan. Enggak ada perhitungan teknis sih ya, cukup disuguhkan tempat tidur, sepedaan, dan sore ini ditutup dengan vibes yang menyenangkan juga. Kami di sini bisa kenal teman baru, beda lah dengan band-band kami sebelumnya yang kalau beres manggung capek.
Pesan-pesan dong buat anak-anak Cianjur!
Daryl: Terus jaga api semangat kolektifnya. Maksud aku, terus tetap adakan gigs-gigs kecil kaya gini. Terus berkarya, kaya tadi kan ada Pinos, tuh. Kita enggak bisa kan terus berharap sama band luar yang harus datang ke sini, kita juga harus bisa buat band lokal bisa main keluar. Kalau ada band tur seminggu sekali, aku juga mau handle, dong. Soalnya ini studionya proper banget! Hahaha
Gia: Buat teman-teman kolektif, tetap jaga spirit kebersamaannya. Jangan lupa buat ciptakan ruang aman, buat perempuan, buat kwir, buat semuanya lah pokoknya. Terima kasih juga buat teman-teman yang bersedia nampung kami band dari luar kota. Btw, si Om Virdha (operator) juga gokil parah!
Arno: Masih adanya kultur kaya gini juga udah bikin saya senang, sih. Terakhir kali saya begini mungkin pas zaman turnya Tarrrkam tuh sama Tabraklari.
Rafly: Mie ayam mantap, sih. Hahaha. Tapi jujur, semangat kolektifnya Cianjur itu keren banget. Pada bersedia gitu menampung band yang pertama kali manggung. Menurutku, itu sih semangat yang harus terus dijaga!
<iframe data-testid="embed-iframe" style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/artist/0CSItM9690fGl5XUDDpYbJ?utm_source=generator" width="100%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"></iframe>
Recommended for fans of; Another Sunny Day, Field Mice, The Sea Urchins
EP available in &