Pingos Membawa Nostalgia Pascakelulusan dalam EP “Can We Remedy Again?”

tuatuakeledai • 05 October 2026
Pingos Membawa Nostalgia Pascakelulusan dalam EP “Can We Remedy Again?”

Ada masa ketika pulang sekolah terasa seperti rutinitas yang akan berlangsung selamanya. Nongkrong, bermain bersama, menghadapi ujian, sampai berbagai hal kecil yang kala itu terasa biasa, perlahan berubah menjadi kenangan ketika masing-masing orang mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Hal tersebut menjadi titik berangkat Pingos dalam EP terbaru mereka, “Can We Remedy Again?”. Band asal Cipanas, Cianjur, ini menjadikan rilisan tersebut sebagai kelanjutan dari EP pertama mereka, “We Should Pass, But When?”, sekaligus ruang untuk membicarakan kehidupan setelah kelulusan dan nostalgia terhadap masa sekolah.

Pingos saat ini diperkuat oleh Jastin Leonard (gitar ritme/vokal), Samudra Putra (gitar lead), Ruqqy Taufiqurrohman (bass), dan Reval Iswanealdi (drum). Secara musikal, mereka berada di wilayah Mathrock dan Midwest Emo, meski memilih menyebut musik mereka sendiri sebagai “TugaranRock”.

Istilah tersebut menjadi cara Pingos untuk tidak terlalu sibuk memikirkan batas-batas genre. Bagi mereka, musik tidak harus selalu dipaksa masuk ke satu kotak tertentu.

EP “Can We Remedy Again?” berisi tiga lagu yang memiliki cerita masing-masing. “Ruler N Pen” hadir tanpa vokal dan membicarakan dua sisi takdir. Penggaris menjadi metafora atas sesuatu yang memiliki titik awal dan akhir yang telah ditentukan, sementara pena menggambarkan bagian kehidupan yang masih dapat dikendalikan manusia melalui perilakunya.

Menariknya, riff yang terdengar menggantung di bagian akhir “Ruler N Pen” sengaja dipertahankan. Pingos menggunakannya sebagai simbol bahwa apa pun yang akan terjadi harus tetap dihadapi, bahkan ketika seseorang belum benar-benar siap.

Cerita kemudian bergeser ke ruang kelas melalui “Kalkulator”. Lagu ini menggambarkan seorang siswa yang awalnya menjalani hari dengan tenang sebelum menyadari bahwa ia memiliki ujian dan tidak mempersiapkan diri. Sebuah kalkulator di dalam tas sempat terlihat seperti jalan keluar, sampai muncul persoalan lain: bagaimana cara menggunakannya?

Sementara itu, “Can We Remedy Again?” menjadi titik emosional EP. Lagu tersebut bercerita tentang sekelompok sahabat yang tumbuh bersama di sekolah, berbagi tawa, bermain, dan melewati berbagai pengalaman. Waktu kemudian membawa mereka pada perpisahan. Rasa rindu terhadap masa yang dianggap sebagai “golden moments” muncul setelah semuanya berlalu, tetapi waktu tidak dapat diputar kembali.

Dalam proses pengerjaannya, Pingos memilih pendekatan mandiri. Seluruh proses composing dan produksi dilakukan secara independen, dengan produksi dikerjakan oleh Leowf alias Jastin Leonard.

Pendekatan DIY tersebut juga terlihat dari keputusan Pingos untuk mempertahankan elemen-elemen yang terdengar tidak sempurna. Bahkan MIDI yang terdengar robotik tetap dibiarkan hadir dalam rekaman sebagai bagian dari prinsip mereka untuk membuat EP ini sejujur dan senatural mungkin.

“Can We Remedy Again?” kini dapat didengarkan melalui Spotify dan Bandcamp. Materi EPK, logo, foto band, serta lagu juga disediakan Pingos melalui folder khusus untuk kebutuhan media.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait